BREAKING NEWS

Di Balik Jubah Advokat, Ada Hati yang Pernah Hancur : Curahan Hati Seorang Pengacara di Warung Kopi

LENSACAMERA.COM, BELITUNG, 2 Juli 2026 – Advokat Boris Dianjaya, S.H., M.H. memilih berbagi refleksi tentang pengalaman hidup dan luka cinta yang pernah dialaminya saat berbincang santai di sebuah warung kopi. Di tengah suasana sederhana, aroma kopi, dan obrolan yang hangat, ia mencurahkan isi hatinya tentang luka yang masih membekas, seraya mengungkapkan bahwa tidak semua perkara dapat diselesaikan dengan logika dan hukum.

"Saya terbiasa membela orang di ruang sidang, tetapi ketika berhadapan dengan perasaan sendiri, saya justru kalah," katanya sambil tersenyum tipis.

Menurutnya, luka karena dikhianati orang yang dicintai jauh lebih sulit dipulihkan dibanding menghadapi sengketa hukum. Ia mengaku pernah memberikan seluruh perhatian, waktu dan ketulusan, namun pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa cinta tidak selalu berakhir sesuai harapan.

"Yang paling menyakitkan bukan saat ditinggalkan, tetapi ketika kita sadar bahwa perjuangan yang selama ini dilakukan ternyata tidak pernah benar-benar dihargai," imbuhnya.

Advokat tersebut mengatakan bahwa pengalaman itu mengajarkannya untuk lebih menghargai diri sendiri dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Baginya, setiap luka adalah pelajaran agar seseorang menjadi lebih kuat menghadapi kehidupan.

"Kadang kita terlalu sibuk memperjuangkan orang lain hingga lupa menjaga hati sendiri. Padahal, hati juga punya batas untuk bertahan," ujarnya.

Meski pernah terluka, ia menegaskan tidak ingin menyimpan dendam. Ia memilih menjadikan pengalaman pahit itu sebagai motivasi untuk terus berkarya dan menjalani profesinya dengan penuh tanggung jawab.

"Biarlah waktu yang menyembuhkan. Saya percaya, setiap orang akan menemukan kebahagiaannya pada waktu yang tepat. Tidak semua yang hilang harus disesali, karena bisa jadi itu cara Tuhan menunjukkan jalan yang lebih baik," tuturnya.

Curahan hati tersebut menjadi pengingat bahwa di balik profesi yang terlihat tegas dan penuh wibawa, seorang advokat tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan, harapan, dan pernah merasakan pahitnya cinta yang tak berbalas.

Mengakhiri perbincangan di warung kopi itu, ia hanya tersenyum lalu meninggalkan sebuah kalimat yang sarat makna.

"Tidak semua yang pergi adalah kehilangan, dan tidak semua yang bertahan adalah kebahagiaan. Luka mengajarkan keikhlasan, waktu menumbuhkan kedewasaan, dan pada akhirnya, hati yang mampu merelakan akan selalu menemukan jalan menuju ketenangan."tutupnya."

(TIM HANTU)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image