Butuh Dana Berobat, Warga Desa Manunggal Kecewa Rekening BCA Berisi Rp19.824.000 Terblokir
Lensacamera.com MEDAN – Putri Handayani, warga Desa Manunggal, Kecamatan Medan Helvetia, mengaku mengalami kesulitan setelah rekening bank swasta BCA miliknya terblokir. Akibatnya, dana sebesar Rp19.824.000 yang tersimpan di dalam rekening tersebut tidak dapat digunakan maupun dicairkan, Kamis (11/6/2026)
Persoalan itu semakin memberatkan karena menurut Putri, dana yang berada di rekening tersebut sangat dibutuhkannya untuk keperluan pengobatan. Namun hingga kini, akses terhadap uang miliknya sendiri belum dapat dilakukan.
"Saat ini saya sangat membutuhkan uang itu untuk biaya pengobatan. Uang saya ada di rekening, tetapi tidak bisa saya ambil karena diblokir. Saya bingung harus bagaimana lagi," ungkap Putri dengan nada kecewa.
Berharap memperoleh solusi, Putri mendatangi kantor cabang BCA di kawasan Komplek Tomang Elok, Medan. Namun menurut pengakuannya, penyelesaian yang diharapkan tidak kunjung didapat. Ia justru diarahkan untuk mengurus persoalan tersebut ke kantor pusat di Jakarta.
Bagi Putri, arahan tersebut terasa memberatkan. Selain harus menghadapi persoalan rekening yang tidak dapat digunakan, dirinya juga dihadapkan pada prosedur yang dinilai rumit di tengah kondisi yang mendesak.
Tak hanya itu, Putri mengaku pelayanan yang diterimanya terkesan saling lempar tanggung jawab tanpa memberikan kepastian kapan rekeningnya dapat kembali diakses. Kondisi tersebut membuatnya merasa dipersulit untuk memperoleh hak atas dana sebesar Rp19.824.000 yang tersimpan di rekening miliknya sendiri.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pelayanan kepada nasabah, terutama ketika seseorang sedang menghadapi kebutuhan mendesak seperti biaya pengobatan. Sebab dalam situasi seperti itu, kecepatan pelayanan, kejelasan informasi, dan kepastian penyelesaian menjadi hal yang sangat penting.
Putri berharap pihak bank segera memberikan penjelasan terkait dasar pemblokiran rekeningnya serta menghadirkan solusi yang dapat diselesaikan melalui kantor cabang tanpa harus membebani nasabah dengan proses yang panjang dan memakan waktu.
Kekecewaan mendalam pun dirasakan Putri Handayani. Baginya, yang tertahan bukan sekadar angka Rp19.824.000 di dalam rekening, melainkan dana yang sangat dibutuhkan untuk biaya pengobatan. Di tengah kondisi yang mendesak, ia justru harus berhadapan dengan proses yang dinilai berbelit dan tidak memberikan kepastian. Putri berharap pihak bank tidak hanya berpegang pada prosedur administratif semata, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kondisi nasabah yang sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan akses terhadap uang hasil jerih payahnya sendiri. Baginya, uang yang tersimpan di rekening tersebut bukan sekadar tabungan, melainkan harapan untuk mendapatkan pengobatan yang saat ini sangat dibutuhkan.

