Kisah Melati Ngang, Penenun Kaltara yang Busana Adatnya Dipakai Jokowi hingga Gubernur
0 menit baca
LENAACAMERA.COM, TANJUNG SELOR – Di Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara), seorang perempuan terus mendedikasikan hidupnya untuk merajut sekaligus melestarikan kekayaan budaya Dayak. Ia adalah Melati Ngang, penenun dan perajin busana tradisional yang berkomitmen menjaga agar warisan leluhur tidak tergerus oleh arus modernisasi.
Melati Ngang, yang merupakan istri dari Dr. Njau Anaouw, S.Pd, M.Si, tak sekadar menjahit pakaian adat biasa. Berbekal ketelitian, kesabaran, dan kemahiran tangannya, ia merancang busana kaya ornamen manik-manik serta motif khas Dayak, mulai dari rompi hingga penutup kepala yang kental akan nilai estetika dan kultural.
Menariknya, deretan karya Melati tidak cuma diminati warga lokal atau jajaran pejabat daerah. Busana hasil rancangannya bahkan pernah dikenakan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, sewaktu melawat ke Kabupaten Malinau. Pengalaman berharga tersebut menjadi kebanggaan mendalam sekaligus pemicu semangat bagi Melati untuk terus memproduksi karya terbaik.
Kisah dedikasi ini dibagikan Melati saat menyambut kunjungan silaturahmi Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan di rumahnya yang berlokasi di Jalan Duku, Tanjung Selor, Kaltara, Minggu malam (13/9/2026). Pertemuan tersebut berlangsung hangat, santai, dan penuh nuansa kekeluargaan.
Rombongan tamu asal Sulawesi Selatan itu dipimpin langsung oleh Ketua Kehormatan PWI Sulsel sekaligus tokoh pers penerima penghargaan Dewan Pers, Dr. H. M. Dahlan Abubakar, M.Hum. Turut mendampingi, Direktur Utama PT Pedoman Rakyat Utama, James Wehantouw yang juga menjabat Bendahara PWI Sulsel, serta Manajer Iklan sekaligus Dewan Redaksi Pedomanrakyat.co.id, Muh. Thalib Ramadhan (Ramzi).
Pada sesi diskusi tersebut, Melati memaparkan ragam corak dan keunikan busana tradisional masyarakat Kaltara, khususnya suku Dayak Kenyah dan Kayan. Menurutnya, payet manik-manik bukan sekadar ornamen hias, melainkan elemen vital penanda identitas serta filosofi pakaian adat setempat.
Bagi kaum wanita, salah satu pakaian khas yang kerap dibuat adalah Ta'a, yaitu atasan tanpa lengan yang dipadukan dengan bawahan rok panjang gelap. Pakaian ini dipercantik ukiran motif alam seperti burung enggang, naga, hingga figur manusia, serta disempurnakan dengan hiasan kepala yang mempertegas kesan tradisionalnya.
Sementara untuk kaum pria, terdapat Sape Inokx atau Sapa', berupa rompi tanpa lengan yang dipadu cawat atau celana pendek ketat. Penampilan ini biasanya dilengkapi topi berhiaskan bulu burung enggang, senjataan khas Mandau, serta beragam perlengkapan adat pendukung lainnya.
“Proses menenun dan merajutnya membutuhkan imajinasi kreatif serta keahlian tangan yang sangat halus. Waktu pembuatannya pun terbilang lama, bergantung pada tingkat kerumitan motifnya,” jelas Melati.
Bagi Melati, setiap jalinan benang dan susunan manik-manik menyimpan rekam jejak sejarah para pendahulu. Karena alasan itu, ia tak sekadar mengejar tampilan visual yang elok, melainkan juga konsisten menjaga keaslian filosofi yang terkandung dalam setiap helai kain buatan tangannya.
“Sudah tak terhitung karya yang saya hasilkan. Ada rasa bangga luar biasa karena busana buatan saya dipercaya untuk dipakai para pejabat daerah mulai dari Bupati, Gubernur, hingga Presiden RI Pak Joko Widodo saat datang ke Malinau,” tuturnya dengan nada haru.
“Setiap kali ada agenda kenegaraan atau penyambutan tamu VIP pusat, saya kerap dipercaya untuk menyiapkan busana adat yang akan mereka kenakan,” sambungnya.
Ketua Kehormatan PWI Sulsel, Dr. H. M. Dahlan Abubakar, M.Hum, mengapresiasi tinggi konsistensi Melati dalam menjaga warisan budaya lokal. Ia mengutarakan bahwa perjuangan perajin daerah seperti Melati membuktikan pelestarian tradisi tak harus selalu lewat ajang megah, tetapi bisa berakar dari ketekunan personal dalam merawat warisan leluhur.
“Langkah yang dilakukan Ibu Melati bukan sekadar memproduksi pakaian. Di balik tiap stik jahitan dan rakitan manik-manik, ada jejak sejarah, martabat, dan identitas masyarakat Kaltara yang terus dijaga kelestariannya,” ungkap Dahlan.
Ia menimpali, keberhasilan karya perajin daerah menembus lingkaran pejabat hingga mantan kepala negara menjadi bukti nyata bahwa produk kebudayaan lokal memiliki daya pikat serta nilai jual yang sangat tinggi di berbagai tingkatan.
“Ini contoh konkrit bahwa kekayaan lokal mampu menjadi tumpuan kekuatan bangsa. Ketika nilai tradisi dikemas dengan kualitas ciamik dan sentuhan seni tinggi, produk daerah bukan hanya jadi kebanggaan lokal, melainkan sanggup mencuri perhatian di panggung nasional,” tegas Dahlan.
Dalam momentum hangat tersebut, Melati turut menyampaikan rasa terima kasih dan rasa kagumnya kepada Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum, yang dinilainya sangat berkomitmen mendukung pengembangan kearifan lokal.
“Saya amat menghormati kepemimpinan Bapak Gubernur Zainal Arifin Paliwang yang begitu peduli dan mengayomi. Beliau memberi perhatian besar terhadap upaya pelestarian busana tradisional yang ada di Kaltara,” tutur Melati.
Menurut Melati, kecintaan sang Gubernur pada kebudayaan tempatan terlihat dari konsistensinya memakai beragam atribut khas Kaltara di berbagai kesempatan formal maupun non-formal. Ia kerap tampil mengenakan pakaian khas, singal (penutup kepala), hingga kalung dan pernak-pernik bernuansa Dayak.
“Walaupun beliau tidak terlahir sebagai suku Dayak, kepeduliannya terhadap budaya Kaltara luar biasa besar. Ke mana pun beliau melakukan kunjungan kerja, pakaian adat selalu dikenakan. Beliau benar-benar figur Bapak Nusantara bagi masyarakat Kaltara,” pungkas Melati.
Perjalanan Melati Ngang memberikan gambaran jelas bahwa upaya memelihara tradisi tidak selalu menuntut aksi besar. Sering kali, pelestarian itu berawal dari jemari seorang perempuan yang sabar menata benang, menyusun manik-manik, dan merawat motif warisan nenek moyang penuh ketulusan. Dari ketekunan itulah identitas Dayak terus mengalir antargenerasi, hingga akhirnya diakui serta dipakai di arena yang lebih luas. (*Rz)

